Budidaya Bawang Dayak I Bisnis Yang Menjanjikan


Peluang bisnis terbuka lebar di bidang pertanian. Salah satunya dari budidaya bawang dayak. Harga pasarannya fantastis. Rp150 ribu per kilogram. Tertarik?

Bawang dayak merupakan salah satu spesies bawang yang banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku obat. Lantaran banyak manfaatnya, peluang bisnis budidaya tanaman ini pun cukup besar. Itu juga yang mendorong banyak orang tertarik mengembangkannya.

Hal itulah yang mendorong Zainal Arifin Ginting salah seorang pensiunan dari Perusahaan Perkebunan terkemuka di Kota Pekanbaru membudidayakan bawang dayak di Pekanbaru. Awal mulanya ia mengelola Kebun Mini Mandiri Perumahan Villa Fajar Indah RW 07, Kelurahan Labuh Baru Barat, Kecamatan Payung Sekaki dengan sayur mayur.

”Namun, mertua anak saya yang notabene orang Kalimantan membawa bibit bawang dayak ke Pekanbaru sebanyak sembilan bibit pada 2014 lalu. Saya hanya coba tanam dan panen tiga bulan berhasil. Hasil dari sembilan bibit terus berkembang hingga menjadi dua bidang tanah yang menghasilkan 10 kilogram setiap kali panen,” katanya.

Ia mengaku, tertarik mengembangkan tanaman ini dikarenakan khasiatnya yang bisa menyembuhkan banyak penyakit.

”Karena itu permintaannya tinggi di pasaran,” ujarnya lagi.

Bawang dayak merupakan spesies bawang yang berasal dari Amerika yang banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku obat. Ciri spesifik tanaman dengan nama latin Eleutherine americana ini memiliki umbi berwarna merah menyala dengan permukaan yang sangat licin.

Oleh sebagian masyarakat asli Kalimantan, khususnya Suku Dayak, tanaman ini biasa dijadikan bahan obat-obatan tradisional. Bawang ini diyakini mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit, seperti disentri, bisul, luka, kanker payudara, diabetes, hipertensi, muntah, penyakit kuning, dan hiperkolesterol.

Zainal menjual tanaman ini jika ada yang meminta untuk obat. Meski baru satu tahun, penjualannya untuk di Kota Pekanbaru cukup tinggi karena minimnya obat tradisional untuk mengantisipasi kanker. Ia juga memesan langsung bibit bawang dayak ini melalui menantunya berasal dari Kalimantan.

Ia bilang, bawang dayak sudah bisa dipanen saat usia tanaman sekitar tiga bulan sampai enam bulan. Sekali panen, satu batang bisa menghasilkan 200 gram-300 gram bawang dayak.

Harga jual bawang dayak tinggi di pasaran, yakni, mencapai Rp150.000 per kg. Sementara itu, yang sudah kering kemasan 250 gram juga dihargai Rp 125.000.

Sebagai tanaman liar, bawang dayak sejatinya tetap tumbuh kendati tidak dirawat. Namun, dengan dibudidayakan secara intensif, hasilnya bisa lebih maksimal. Perawatannya juga tergolong mudah dan murah. Hanya perlu air dan pupuk secukupnya. Tanaman ini tahan hama jadi tak perlu pestisida.

Bawang dayak atau Eleutherine americana bisa dikembangkan di daerah dataran tinggi maupun rendah. Sama seperti bawang pada umumnya, bawang dayak juga dikembangkan dari umbi.

Zainal katakan, budidaya tanaman ini dengan cara membenamkan umbi ke dalam tanah dengan kedalaman kurang lebih 3 cm di bawah permukaan tanah yang telah digemburkan, kemudian diberi pupuk secukupnya.

Zainal menyarankan, untuk daerah yang datar dan berair perlu dibuatkan bedengan terlebih dahulu supaya akar dan umbi bawang tidak tergenang air dan menjadi busuk.

”Kalau kebanyakan air nanti akar sama umbinya bisa rusak dan busuk,” katanya.

Supaya pertumbuhannya lebih cepat, perlu juga diberikan pupuk kandang. Pupuk kandang ini membantu menggemburkan tanah sehingga umbi lebih cepat besar dan lebih mudah saat panen. Apabila menggunakan pupuk kimia, setelahnya tanah perlu disiram dengan effective microorganisme (EM4) agar tidak menjadi keras.

Menurutnya, bawang dayak tahan terhadap hama sehingga tidak perlu memakai pestisida. Hanya saja, di musim hujan, petani harus mewaspadai jamur yang menyerang umbi. Saat itu, buku bawang banyak lembab hingga berjamur.

Sumber: PEKANBARU(RIAUPOS.CO) -

Berminat Budidaya Bawang Dayak Silahkan Klik Tempat Jual Bawang Dayak